Selasa, 05 April 2011

KONSEP-KONSEP DASAR ORGANISASI


KONSEP-KONSEP DASAR ORGANISASI

Pengertian organisasi
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
pada dasarnya pengertian organisasi secara umum adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan satu tujuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional. organisasi bisa terjadi dimana saja, karena organisasi tidak harus yang bersifat formal tetapi ada juga organisasi yang bersifat non formal. organisasi formal misalnya dalam lingkungan sekolah,lingkungan kampus,lingkungan kerja dan ligkungan masyaraka

beberapa pengertian organisasi lainnya:

1.Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.”

2.Drs. Malayu S.P Hasibuan mengatakan “organisasi ialah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja.”

3. Prof. Dr. Mr Pradjudi Armosudiro mengatakan “organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.

4. James D Mooney berpendapat bahwa “Organization is the form of every human, association for the assignment of common purpose” atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian suatu tujuan bersama.

5. Chester L Bernard (1938) mengatakan bahwa “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define organization as a system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sama.

6. Paul Preston dan Thomas Zimmerer mengatakan bahwa “Organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.” (Organization is a collection people, arranged into groups, working together to achieve some common objectives).

7. Organisasi Menurut Stoner
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.


elemen organisasi

Dalam berorganisasi ada beberapa hal yang harus dimilki agar memberikan kemajuan pada organisasi tersebut. hal-hal tersebut diantaranya :
1. nilai dan visi
nilai dan visi yang dimaksud merupakan tujuan besar yang akan dicapai nantinya.jika pada organisasi tidak terdapat nilai dan visi maka organisasi tersebut akan bermasalah/rusak,karena tidak mempunyai pemikiran kedepan.
2. misi
misi adalah cara dan tujuan yang harus dicapai dalam waktu jangka pendek. jika tidak terdapat misi pada organisasi maka akan bingung apa yang akan dikerjakan dalam organisasi tersebut.
3. aturan
aturan dalam berorganisasi sangat diperlukan karena jika tidak ada aturan maka akan terjadi konflik kepentingan karena tidak ada yang mengatur dalam berorganisasi.
4. profesionalisme
profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya,jika tidak ada sikap profesionalisme didalam berorganisasi maka hasilnya pun akan resah.
5. insentif
jika tidak ada insentif akan lamban organisasi tersebut. insentif yang dimaksud adalah insentif kerja dalam organisasi.
6. sumber daya
sumber daya merupakan hal terpenting dalam berorganisasi karen sumber daya yang dimaksud adalah manusia yang akan menjalankan suatu organisasi. sumber daya sangat diperlukan karena akan mengacu pada tujuan kerja yang akan dilakukan kedepannya oleh organisasi tersebut,jika tidak ada sumber daya makan akan frustasi.
7. rencana kerja
didalam suatu organisasi diperlukan rencana kerja untuk menjalan visi dan misi dalam organiasi jika tidak ada rencana kerja maka akan salah langkah.

Selain itu  elemem dasar lainnya adalah
  • Struktur social
  • Partisipan
  • Tujuan
  • Teknologi

Struktur social adalah pola atau aspek aturan hubungan yang ada antara partisipan yang ada dalam organisasi

Klasifikasi struktur sosia adalah
  • Struktur normative yaitu menyangkut nilai,norma dan peranan yang di harapkan
  • Struktur tingkah laku

Partisipan organisasi adalah individu-individu yang memberikan kontribusi kepada organisasi

Tujuan adalah sangat di pelukan dalam memahami organisasi dan tujuan adalah titik sentral petunjuk dalam menganalisa organisasi dan kebanyakan tujuan itu kontroversi

Teknologi adalah penggunaan mesin-mesinatau perlengkapan mesin dan juga pengetahuan teknik dan keterampilan pertisipan


Karakteristik dan fungsi komunikasi

Organisasi mempunyai karakteristik yaitu:
  • Bersifat dinamis,dapat dikatakan organisasi bersifat dinamis sebab itulah ia hidup, selalu bergerak, berkembang dan berubah-ubah.Adanya sifat dinamis dipengaruhi oleh beberapa factor yang mempengaruhi, jelaskan factor-factor tersebut!
  
    1. FAKTOR INTERN (DALAM)
             ==> Tujuan
             ==> Manusia-manusia
             ==> Tata hubungan
    2. FAKTOR EKTERN (LUAR)
        1. NON FISIK
             ==> Bersifat Konstitusional-politis, misalnya UUD, Tap MPR, Kepres
             ==> Bersifat Sosial-politis, misalnya Parpol, peranan suatu kelompok
             ==> Bersifat Sosial-ekonomi, misalnya Sumber penghasilan, jumlah penduduk
             ==> Bersifat Sosial-religius, misalnya Pengaruh agama, organisasi keagamaan
             ==> Bersifat Sosial-kultur, misalnya Tingkat kecerdasan berfikir
             ==> Bersifat Teknik-teknologis, misalnya Penemuan teknologi
        2. FISIK,misalnya factor cuaca, keadaan iklim, keadaan alam, sumber-sumber alamiah, faktor letak, daerah
  • Memerlukan informasi yaitu dimana semua organisasi membutuhkan informasi demi keberlanjutan hidup dan perkembangan organisasi ke depannya
  • Mempunyai tujuan yaitu setiaporganisasi pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda dengan organisasi lainnya
  • Memiliki struktur yaitu organisasi dalam mencapai tujuan membuat aturan-aturan dan hirarki hubungan.struktur menjadikan organisasi membakukan prosedur kerja dan mengkhususkan tugas yang berhubungan dengan proses produksi

Fungsi organisasi
  • Memenuhi kebutuha pokok organisasi
  • Mengembangkan tugas dan tanggung jawab
  • Memproduksi barang atau orang mempengaruhi orang


Teori-teori organisasi

Teori Klasik

 berkembang dalam 3 Aliran:

¨      BIROKRASI) Dikembangkan dari Ilmu Sosiologi
¨      ADMINISTRASI) Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.
¨      MANAJEMEN ILMIAH)  Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Mikro sebuah organisasi.
Semua teori diatas dikembangkan sekitar tahun 1900-1950. Pelopor teori ini kebanyakan dari sebuah negara berbentuk kerajaan “Mesir, Cina & Romawi”.

 

1.      TEORI BIROKRASI


Dikemukakan oleh “MAX WEBER” dalam buku “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism” dan “The Theory of Social and Economic Organization”.
Istilah BIROKRASI berasal dari kata LEGAL_RASIONAL:
“Legal” disebakan adanya wewenang dari seperangkat aturan prosedur dan peranan yang dirumuskan secara jelas.  Sedangkan “Rasional”  karena adanya penetapan tujuan yang ingin dicapai.
Karekteristik-karekteristik birokrasi menurut Max Weber:
©      Pembagian kerja
©      Hirarki wewenang
©      Program  rasional
©      Sistem Prosedur
©      Sistem Aturan hak kewajiban
©      Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal


2.      TEORI ADMINISTRASI


Teori ini dikembangkan oleh Henry Fayol, Lyndall Urwick dari Eropa  dan James D. Mooney, Allen Reily dari Amerika.

HENRY FAYOL (1841-1925): Seorang industrialis asal Perancis tahun 1916 menulis sebuah buku “Admistration industrtrielle et Generale” diterjemahkan dalam bahasa inggris 1926 dan baru dipublikasikan di amerika 1940.
14 Kaidah manjemen menurut Fayol yang menjadi dasar teori administrasi:
ª      Pembagian kerja
ª      Wewenang & tanggung jawab
ª      Disiplin
ª      Kesatuan perintah
ª      Kesatuan pengarahan
ª      Mendahulukan kepentingan umum
ª      Balas jasa
ª      Sentralisasi
ª      Rantai Skalar
ª      Aturan
ª      Keadilan
ª      Kelanggengan personalia
ª      Inisiatif
ª      Semangat korps

Fayol membagi kegiatan industri menjadi 6 kelompok:
§        Kegiatan Teknikal (Produksi, Manufaktur, Adaptasi)
§        Kegiatan Komersil (Pembelian, Penjualan, Pertukaran)
§        Kegiatan Financial (penggunaan optimum modal)
§        Kegiatan Keamanan
§        Kegiatan Akuntansi
§        Kegiatan Manajerial atau “FAYOL’s FUNCTIONALISM” yaitu:
a.       Perencanaan
b.      Pengorganisasian
c.       Pemberian perintah
d.      Pengkoordinasian
e.       Pengawasan

        3.MANAJEMEN ILMIAH

Dikembangkan tahun 1900 oleh FREDERICK WINSLOW TAYLOR).  Definisi Manajemen Ilmiah:
“Penerapan metode ilmiah pada studi, analisa dan pemecahan masalah organisasi” atau “Seperangkat mekanisme untuk meningkatkan efesiensi kerja”.

F.W. TAYLOR menuangkan ide dalam tiga makalah: “Shop Management”, “The Principle Oif Scientific Management” dan “Testimony before the Special House Comitte”.  Dari tiga makalah tersebut lahir sebuah buku “Scientific Management”. 

Berkat jasa-jasa yang sampai sekarang konsepnya masih dipergunakan pada praktek manajemen modern maka F.W. TAYLOR dijuluki sebagai “BAPAK MANAJEMEN ILMIAH”.

Empat kaidah Manajemen menurut Frederick W. Taylor:
  • Menggantikan metode kerja dalam praktek dengan metode atas dasar ilmu         pengetahuan.
  • Mengadakan seleksi, latihan dan pengembangan karyawan
  • Pengembangan ilmu tentang kerja, seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah perlu intregasikan.
  • Perlu dikembangkan semangat dan mental karyawan untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah


HUGO MUNSTERBERG

Teori hubungan manusia

Salah tokoh neoklasik pencetus “Psikologi Industri”. Hugo menulis sebuah buku “Psychology and Industrial Effeciency” tahun 1913. Buku tersebut merupakan jembatan antara manajemen ilmiah dan neoklasik. Inti dari pandangan Hugo adalah menekankan adanya perbedaan karekteristik individu dalam organisasi dan mengingatkan adannya pengaruh factor social dan budaya terhadap organisasi.

Munculnya teori neoklasik diawali dengan inspirasi percobaan yang dilakukan di Pabrik Howthorne tahun 1924 milik perusahaan Western Elektric di Cicero yang disponsori oleh Lembaga Riset Nasional Amerika. Percobaan yang dilakukan ELTON MAYO seorang riset dari Western Electric menyimpulkan bahwa pentingnya memperhatikan insentif upah dan Kondisi kerja karyawan dipandang sebagai factor penting peningkatan produktifitas.

Dalam pembagian kerja  Neoklasik memandang perlunya:
a.       Partisipasi
b.      Perluasan kerja
c.       Manajemen bottom_up

Teori system social

Kebanyakan interaksi kita dengan orang lain merupakan tindakan komunikatif (verbal/non verbal, bicara / diam). “komunikasi – pertukaran informasidan transmisi makna – adalah inti suatu sistem sosial atau suatu organisasi. Termasuk dalam bentuk-bentuk interaksi sosial seperti penggunaan pengaruh, kerja sama penularan sosial atau peniruan dan kepemimpinan yang dimasukkan dalam konsep organisasi.

Teori politik

Pokok permasalahan  yaitu terletak pada
  • Kekuasaan
  • Konflik
Selain itu distribusi kewenangan. Preposisi dari perspektif teori politik yaitu
  • Kebanyakan dari keputusan-keputusan pentingdalam organisasi mencakup alokasi sumber-sumber yang langkah
  • Organisasi adalah komposisi gabungan dari sejumlah kepentingan individu dan kelompok
  • Kepentingan individu berbeda-beda dalam nilai-nilai kekuasaan,kepercayaan dan lain-lain secara realistis
  • Tujuan dan keputusan organisasi timbul dari proses perundingan antar individu atau kelompok
  • Adanya perbedaan yang abadi,maka kekuasaan dan konflik merupakan pusat kehidupan


Teori simbolis

Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959).
Seperti yang dikatakan Francis Abraham dalam Modern Sociological Theory (1982)[1], bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Teori ini akan berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan, interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. Interaksi sendiri dianggap sebagai unit analisis: sementara sikap-sikap diletakkan menjadi latar belakang.
Baik manusia dan struktur sosial dikonseptualisasikan secara lebih kompleks, lebih tak terduga, dan aktif jika dibandingkan dengan perspektif-perspektif sosiologis yang konvensional.Di sisi ini masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi, namun juga menangkap, menginterpretasi, bertindak, dan mencipta. Individu bukanlah sekelompok sifat, namun merupakan seorang aktor yang dinamis dan berubah, yang selalu berada dalam proses menjadi dan tak pernah selesai terbentuk sepenuhnya.
Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “di luar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Selain itu, keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik, di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia.
Makna-makna itu kita bagi bersama yang lain, definisi kita mengenai dunia sosial dan persepsi kita mengenai, dan respon kita terhadap, realitas muncul dalam proses interaksi.[2] Herbert Blumer, sebagaimana dikutip oleh Abraham (1982)[3] salah satu arsitek utama dari interaksionisme simbolik menyatakan: Istilah ‘interaksi simbolik’ tentu saja menunjuk pada sifat khusus dan khas dari interaksi yang berlangsung antar manusia. Kekhususan itu terutama dalam fakta bahwa manusia menginterpretasikan atau ‘mendefinsikan’ tindakan satu sama lain dan tidak semata-mata bereaksi atas tindakan satu sama lain.
Jadi, interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol, oleh interpretasi, atau oleh penetapan makna dari tindakan orang lain. Mediasi ini ekuivalen dengan pelibatan proses interpretasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia.Pendekatan interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya. Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian ke arah dengan bahasa; namun Mead mengembangkan hal itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual.
Semua interaksi antarindividu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian kita pada interaksi antarindividu, dan bagaimana hal ini bisa dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu

























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar